Lampung Utara – Sandiwartanews.com – Di tengah gencarnya program pemerintah untuk menekan angka kemiskinan dan memperluas jangkauan bantuan sosial, masih saja ada kisah getir yang luput dari perhatian. Seorang nenek di Kabupaten Lampung Utara hidup dalam kondisi memprihatinkan bersama cucunya yang yatim piatu. Mereka menempati gubuk sederhana, dan nyaris tak tersentuh bantuan sosial apa pun.
“Dulu kami pernah dapat bantuan, tapi sudah lama tidak lagi. Entah kenapa, saya juga tidak tahu. Padahal saya sudah tua dan tidak punya penghasilan tetap. Hanya bisa ngumpul-ngumpul barang bekas untuk makan,” tutur sang nenek (23/10/2025).
Sambil menatap cucunya yang duduk diam di pojok ruangan, sang nenek menceritakan perjuangannya membesarkan cucunya. “Sejak kecil cucu saya ikut saya. Orang tuanya dulu merantau, katanya mau cari kerja, tapi sampai sekarang tidak pernah ada kabar. Jadi saya rawat dia sampai sebesar ini,” ungkapnya.
Namun, kehidupan yang sudah berat itu semakin terpuruk ketika cucunya mengalami nasib tragis di sekolah. Sang nenek menuturkan, cucunya sempat bersekolah di salah satu SMA negeri di Kotabumi, namun kini terpaksa berhenti.
“Cucu saya difitnah oleh oknum guru di sekolah. Katanya dia menyebarkan foto tidak senonoh, padahal tidak benar. Saya tahu dari teman sekolahnya. Setelah itu, cucu saya malah dilarang masuk sekolah lagi, dan diminta bayar sejumlah uang kalau mau diterima kembali,” jelas sang nenek dengan mata berkaca-kaca.
Ia mengaku tidak tahu harus mengadu ke mana. “Saya ini orang kecil, tak tahu hukum, tak punya siapa-siapa. Mau mengadu ke mana? Saya cuma ingin cucu saya bisa sekolah lagi,” ujarnya.
Kisah pilu ini seolah menjadi potret buram masih lemahnya pendataan dan pengawasan terhadap program bantuan sosial di daerah. Padahal, warga seperti sang nenek jelas masuk kategori penerima manfaat yang seharusnya mendapat perhatian khusus.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak sekolah dan Dinas Sosial setempat belum memberikan tanggapan resmi atas kejadian yang menimpa nenek dan cucunya tersebut.
Masyarakat sekitar berharap pemerintah daerah dapat segera turun tangan. “Kasihan, Harusnya mereka dapat bantuan dan perhatian,” kata salah satu warga sekitar.
Di tengah derita dan keterbatasan, sang nenek hanya bisa menggantungkan harapan terakhirnya kepada hati nurani para pemangku kebijakan. “Kalau bisa, tolong cucu saya sekolah lagi. ” ujarnya menutup percakapan.





