Jakarta — sandiwartanews.com – Babak puncak Festival Pencak Silat Tradisi Se-Jabodetabek dan Banten 2025 pada Minggu (16/11/2025) berubah menjadi Sore yang sarat makna ketika Kementerian Kebudayaan memberikan sambutan resmi di atas panggung utama halaman Museum Satria Mandala, Jakarta. Kehadiran jajaran pejabat kementerian memberikan energi tersendiri bagi ratusan pesilat dan paguron yang bertanding sejak Kemarin dan pagi.
Dalam sambutannya, Kementerian Kebudayaan RI, Fadli Zon menyampaikan apresiasi mendalam atas terselenggaranya festival yang dianggap memiliki peran besar menjaga keberlanjutan warisan budaya nasional. Hal itu ditegaskan di hadapan tokoh-tokoh penting yang hadir, termasuk Kolonel Sus Geraldus Maliti yang mewakili Kapus Sejarah TNI, Kepala Museum Satria Mandala Letkol Dr. Safarudin Barus STMM, serta Ketua Panitia Refli Cahyadi.
Festival yang digelar di lingkungan museum TNI itu menurut kementerian bukan sekadar panggung kompetisi, tetapi simbol bahwa museum dapat menjadi pusat aktivitas kebudayaan yang hidup. “Museum bukan hanya tempat menyimpan benda bersejarah, melainkan pusat edukasi dan ruang budaya,” terang kementerian dalam pidatonya.
Pencak Silat Warisan Dunia yang Harus Dijaga
Dalam sambutan tersebut, Kementerian Kebudayaan juga menyampaikan capaian besar Indonesia ketika pencak silat resmi diinskripsi UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2019. Keberhasilan tersebut, menurut mereka, menjadi penegas bahwa pencak silat harus terus dipromosikan, diajarkan, dan ditampilkan secara luas.
Festival tahun ini menghadirkan berbagai aliran pencak silat dari Jabodetabek dan Banten, mulai dari Cimande, Cikalong, hingga aliran khas Banten seperti debus yang selalu memancing rasa takjub penonton. Meski begitu, kementerian mengingatkan pentingnya disertai edukasi agar atraksi ekstrem seperti debus tidak ditiru sembarangan oleh masyarakat.
Kementerian Kebudayaan juga menekankan komitmen untuk memperkuat pendataan seluruh aliran pencak silat di Indonesia—mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Sumatera, hingga wilayah timur. Menurut mereka, jumlah aliran silat yang tersebar di tanah air sangat kaya dan memerlukan pengarsipan nasional.
Tak hanya itu, kementerian membuka peluang kerja sama lebih besar melalui Dana Abadi Kebudayaan “Dana Indonesia” yang dapat diakses komunitas bila ingin menyelenggarakan festival serupa dalam skala yang lebih besar pada tahun mendatang. Mereka mendorong panitia untuk mengajukan proposal sejak awal 2026 agar festival berikutnya lebih terencana.
“Kegiatan seperti ini akan kami dukung lebih besar. Yang penting ada inisiatif dan kemauan dari berbagai pihak,” ujarnya, disambut tepuk tangan peserta dan tamu undangan.
Harapan untuk Tahun Berikutnya
Festival tahun ini diikuti 48 perguruan. Kementerian berharap jumlah peserta dapat meningkat signifikan pada gelaran berikutnya, bahkan menargetkan bisa mencapai 100 hingga 200 perguruan se-Jabodetabek dan Banten. Mereka juga mendorong Museum Satria Mandala agar menjadi pusat kegiatan budaya reguler, tidak hanya setahun sekali.
Pada bagian akhir, kementerian mengucapkan selamat kepada seluruh juara dan peserta, sambil berpesan agar mereka terus melestarikan tradisi. “Yang belum menang, jangan putus asa. Tingkatkan latihan. Pencak silat harus terus hadir sebagai identitas budaya bangsa dalam percaturan dunia.”
Acara kemudian ditutup dengan penyerahan piala dan hadiah kepada para juara, disaksikan ratusan penonton yang memenuhi area museum.





