JakartaSandiwartanews.com – Jumat, 14 November 2025 — Menjelang hitungan jam menuju Festival Pencak Silat Tradisi Se–Jabodetabek yang memperebutkan Piala Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, denyut persiapan makin terasa di Museum Satria Mandala, Jakarta Selatan. Panitia Pesilat Tradisi Indonesia Raya (PETIRA) tampak bergerak cepat melakukan koordinasi teknis untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan sempurna.

Dalam rapat teknis terakhir pada Jumat, Ketua Panitia Refly Cahyadi menegaskan bahwa penyelenggaraan festival ini bukan sekadar acara rutin, melainkan momentum budaya yang membawa tanggung jawab moral.

“Festival ini persembahan untuk bangsa. Kita tidak hanya menata panggung, tetapi juga membawa nilai luhur Pencak Silat sebagai warisan budaya pemersatu. Setiap panitia harus bekerja dengan hati, disiplin, dan gotong royong,” tegas Refly kepada jajaran panitia.

Pada sesi pengarahan terpisah, Pembina I Letkol Adm Dr. Saparudin Barus, S.T., M.M. menekankan pentingnya menjaga karakter, nasionalisme, dan ketertiban selama acara berlangsung.

“Kegiatan budaya sebesar ini harus menjadi contoh bagi generasi muda. Semangat bela negara, persatuan, dan profesionalisme harus hadir berdampingan dengan pelestarian tradisi,” ujarnya.

Sementara itu, Pembina II Syarif Hidayatuloh mengingatkan agar seluruh bidang tetap menjaga ritme kerja hingga hari pelaksanaan. Ia menilai panitia sudah menunjukkan dedikasi sejak tahap awal, namun sinkronisasi lintas seksi tetap menjadi kunci.

“Komunikasi antarbidang harus terus menyala. Kita ingin momentum budaya ini berjalan tertib, efektif, dan meninggalkan kesan mendalam,” ungkapnya.

Dari sisi administratif, Sekretaris Narwan Riyadi memastikan seluruh persuratan, alur acara, hingga kebutuhan teknis telah disusun secara rinci.

“Logistik, dokumen acara, hingga perangkat teknis sudah kami siapkan. Koordinasi terus kami rapatkan karena kekompakan adalah penentu keberhasilan,” katanya.

Melalui rangkaian persiapan ini, panitia PETIRA menegaskan kembali bahwa festival tersebut bukan hanya ajang seni bela diri, melainkan wujud nyata semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam bingkai pelestarian budaya Nusantara.