Sandiwartanews.com – Dalam kehidupan, tidak sedikit manusia yang merasa kecewa ketika doa-doanya tak kunjung terjawab. Padahal, di balik keterlambatan itu, tersimpan rahasia besar dari Sang Maha Pengatur. Sebagaimana nasihat agung yang disampaikan oleh ulama sufi ternama, Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari, dalam Al-Hikam—sebuah karya monumental yang mengajarkan kebijaksanaan spiritual bagi setiap pencari Tuhan.

Syekh Ibnu Athaillah :

لاَ يَــكُنْ تَــأَخُّرُ أَ مَدِ الْعَطَاءِ مَعَ اْلإِلْـحَـاحِ فيِ الدُّعَاءِ مُوْجِـبَاً لِـيَأْسِكَ؛ فَـهُـوَ ضَمِنَ لَـكَ اْلإِجَـابَـةَ فِيمَا يَـخْتَارُهُ لَـكَ لاَ فِيمَا تَـختَارُ لِـنَفْسِكَ وَفيِ الْـوَقْتِ الَّـذِيْ يُرِ يـْدُ لاَ فيِ الْـوَقْتِ الَّذِي تُرِ يدُ

“Janganlah keterlambatan datangnya pemberian Tuhan dalam memberikan apa yang kau minta, sementara engkau telah berdoa begitu lama, membuatmu putus asa. Sebab, Tuhan pasti mengabulkan permintaanmu dengan cara yang Dia pilih, bukan dengan cara yang engkau pilih. Dia akan mengabulkan permintaan itu pada waktu yang Dia kehendaki, bukan menurut waktu yang engkau kehendaki.”

 

Makna ini menegaskan bahwa doa bukan sekadar permintaan, melainkan bentuk penghambaan yang penuh ketundukan dan kepercayaan kepada kehendak Ilahi.

Allah SWT pun menegaskan dalam firman-Nya:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Tuhan kalian telah berkata: ‘Memohonlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya untuk kalian.”
(QS Ghafir: 60)

 

Namun, dalam dimensi spiritual, pengabulan doa bukan selalu berarti mendapat apa yang diminta, melainkan apa yang terbaik menurut pengetahuan Allah SWT. Terkadang, keterlambatan jawaban justru menjadi bentuk kasih sayang Tuhan agar manusia belajar bersabar, berprasangka baik, dan memperkuat keyakinannya.

Seorang salik sejati, atau penempuh jalan spiritual, percaya bahwa setiap takdir Allah pasti mengandung hikmah, meskipun tidak selalu sesuai dengan keinginan pribadi. Saat doa belum dikabulkan, di sanalah manusia diuji—apakah ia tetap berprasangka baik, atau malah goyah keyakinannya kepada Sang Khalik.

Syekh Ibnu Ajibah, dalam karya Îqadh al-Himam fî Syarh al-Hikam, menambahkan petuah lembut:

وَلَا تَحْرِصْ فَإِنَّ الْحِرْصَ تَعَبٌ وَمَذَلَّةٌ

“Dan janganlah engkau sangat menginginkan sesuatu, sesungguhnya sikap tersebut membuatmu lelah dan sengsara.”

Ungkapan ini mengajarkan agar manusia tidak larut dalam ambisi duniawi. Karena keinginan yang berlebihan sering kali membuat jiwa gelisah, sementara ketenangan hanya datang kepada mereka yang menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh tawakal.

Melalui hikmah para sufi besar ini, kita diajak merenungi bahwa setiap doa memiliki waktu dan cara terbaik untuk dikabulkan. Tidak ada doa yang sia-sia—semuanya tersimpan, menunggu saat paling tepat menurut Sang Pencipta.

Dan di sanalah letak keindahan hakiki dari doa: bukan pada terkabulnya permintaan, tapi pada kedekatan hati yang tumbuh antara hamba dan Tuhannya.