Sandiwartanews.com Kuningan — Di tengah lalu lintas kendaraan dan aktivitas warga yang silih berganti di kawasan Jalan Jenderal Sudirman Kabupaten Kuningan, terdapat sebuah aktivitas sederhana yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Di trotoar jalan, tepatnya di depan Terbit Kuningan, seorang pria paruh baya terlihat tekun memperbaiki sepatu dengan peralatan sederhana.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pria tersebut adalah Jahadi (57), warga Awirarangan, yang telah menggeluti profesi sebagai tukang sol sepatu selama kurang lebih tiga dekade. Dengan kotak kayu berisi perlengkapan kerja di sampingnya, Jahadi setiap hari melayani warga yang datang membawa sepatu rusak untuk diperbaiki.

Bagi sebagian orang, pekerjaannya mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Jahadi, pekerjaan itu bukan sekadar cara mencari nafkah, melainkan keterampilan hidup yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang hidupnya.

Setiap hari, Jahadi mulai membuka lapaknya sekitar pukul 08.00 WIB. Ia menata peralatan kerjanya jarum besar, benang khusus, lem, palu kecil, serta berbagai bahan sol sepatu yang tersimpan dalam kotak kayu sederhana.

Sepanjang hari, ia duduk di bangku kecil di tepi trotoar sambil menunggu pelanggan yang datang membawa sepatu untuk diperbaiki. Pekerjaan yang ia lakukan beragam, mulai dari mengganti sol yang aus, menjahit bagian sepatu yang robek, hingga memperkuat bagian yang mulai rusak.

Menjelang sore hari, biasanya sekitar pukul 15.00 WIB, Jahadi menutup lapaknya. Rutinitas itu telah dijalani hampir setiap hari selama bertahun-tahun.

“Biasanya buka sekitar jam delapan pagi, kalau sudah sore sekitar jam tiga saya tutup,” kata Jahadi Jumat (6/3/2026).

Meski hanya bermodalkan peralatan sederhana, ketelatenan Jahadi dalam memperbaiki sepatu membuat sejumlah pelanggan tetap datang kepadanya. Bagi sebagian warga, jasa tukang sol sepatu seperti Jahadi masih dibutuhkan, terutama untuk memperbaiki sepatu yang masih layak dipakai.

Jahadi menuturkan bahwa keterampilannya memperbaiki sepatu tidak diperoleh secara instan. Ia mulai mempelajari pekerjaan tersebut sejak usia remaja.

Saat berusia sekitar 17 tahun, ia belajar dari kakaknya yang lebih dahulu bekerja sebagai tukang sol sepatu. Dari sanalah ia mulai mengenal teknik dasar menjahit sepatu hingga mengganti sol.

“Saya belajar dari kakak yang juga tukang sol. Waktu itu umur saya sekitar 17 tahun,” ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, keterampilan itu semakin terasah. Jahadi kemudian memutuskan menjadikan pekerjaan tersebut sebagai profesi utama untuk mencari nafkah.

Sejak saat itu pula ia mulai bekerja memperbaiki sepatu di pinggir jalan, melayani masyarakat yang membutuhkan jasa perbaikan alas kaki.

Selama puluhan tahun menjalani profesi tersebut, Jahadi mengaku sudah terbiasa dengan berbagai kondisi cuaca. Panas terik maupun hujan bukan hal baru baginya.

Sebagai pekerja yang menggantungkan aktivitasnya di ruang terbuka, ia harus siap menghadapi perubahan cuaca setiap hari. Saat matahari terik, ia tetap bekerja di bawah payung sederhana. Sementara ketika hujan turun, ia biasanya menunggu hingga cuaca kembali memungkinkan untuk bekerja, Meski demikian, Jahadi tetap bertahan menjalani profesinya.

Menurutnya, pekerjaan sebagai tukang sol sepatu memang tidak selalu memberikan penghasilan yang pasti, Ada hari-hari ketika banyak pelanggan datang, namun tidak jarang pula lapaknya sepi.

“Kadang ramai, kadang juga sepi. Tapi alhamdulillah masih ada saja yang datang memperbaiki sepatu,” katanya.

Pendapatan yang ia peroleh dari memperbaiki sepatu digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Bagi Jahadi, pekerjaan yang dijalani selama puluhan tahun ini merupakan sumber penghidupan utama bagi keluarganya. Meski penghasilannya tidak selalu besar, ia tetap bersyukur karena pekerjaan tersebut masih dapat menopang kebutuhan hidup.

Ia juga memiliki seorang putra yang hingga kini belum memiliki pekerjaan tetap. Kondisi tersebut membuat Jahadi semakin berusaha untuk terus bekerja selama masih mampu.

Profesi sebagai tukang sol sepatu, menurutnya, mungkin tidak banyak diminati generasi muda saat ini. Namun bagi dirinya, pekerjaan tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang sulit untuk ditinggalkan, Selama masih memiliki tenaga dan kesehatan, Jahadi bertekad untuk terus menjalankan pekerjaannya.

“Saya berharap masih bisa terus kerja di sini. Selama masih kuat, saya akan tetap memperbaiki sepatu,” ujarnya.

Di tengah berkembangnya industri sepatu dan gaya hidup yang cenderung mengganti barang rusak dengan yang baru, keberadaan tukang sol sepatu seperti Jahadi tetap memiliki tempat di masyarakat.

Sebagian warga masih memilih memperbaiki sepatu lama yang masih layak pakai daripada membeli yang baru, Selain lebih hemat, memperbaiki sepatu juga dianggap sebagai cara memanfaatkan barang agar tidak cepat menjadi limbah.

Karena itu, jasa perbaikan sepatu masih dibutuhkan, terutama bagi masyarakat yang ingin memperpanjang masa pakai alas kaki mereka.

Bagi warga Kabupaten Kuningan yang ingin memperbaiki sepatu, Jahadi setiap hari dapat ditemui di trotoar Jalan Jenderal Sudirman Kabupaten Kuningan, tepatnya di depan Terbit.

Di tempat sederhana itulah Jahadi terus menjalani rutinitasnya menjahit, menempel, dan memperbaiki sepatu—sebuah pekerjaan yang telah ia tekuni selama hampir tiga puluh tahun.

Kisah Jahadi menjadi gambaran tentang ketekunan seseorang dalam mempertahankan profesi tradisional di tengah perubahan zaman. Dengan peralatan sederhana dan ketelatenan yang dimilikinya, ia tetap menjalani pekerjaannya dengan penuh kesabaran.

Bagi Jahadi, setiap sepatu yang diperbaiki bukan hanya sekadar pekerjaan, melainkan juga bagian dari usaha untuk terus bertahan dan menjaga harapan hidup di tengah kesederhanaan.