Sandiwartanews.com – Halmahera — Memasuki Ramadan 2026, denyut aktivitas ekonomi masyarakat di Pasar Sentral Kota Labuha tampak meningkat signifikan. Sejak pagi hingga menjelang waktu berbuka puasa, arus warga yang datang silih berganti untuk berbelanja kebutuhan pokok, bahan pangan segar, hingga perlengkapan rumah tangga terlihat lebih padat dibanding hari-hari biasa. Pasar yang berada di pusat Kota Labuha itu kembali menjadi tumpuan utama masyarakat selama bulan suci.
Namun, di balik meningkatnya aktivitas tersebut, kondisi infrastruktur pasar kembali menjadi sorotan. Sejumlah ruas jalan di dalam area pasar dilaporkan dalam keadaan becek dan tergenang air, terutama setelah hujan turun. Permukaan jalan yang tidak rata, disertai lubang yang tertutup genangan, membuat pejalan kaki maupun pengendara roda dua harus ekstra waspada saat melintas.
Pantauan di lapangan menunjukkan, genangan air terlihat di beberapa titik jalur utama pasar yang kerap dilalui pembeli dan pedagang. Air bercampur lumpur membuat alas kaki licin, sementara kendaraan roda dua terpaksa melaju pelan untuk menghindari risiko tergelincir. Kondisi ini dinilai cukup mengganggu, terutama pada jam-jam sibuk ketika arus orang dan barang meningkat tajam.
Sejumlah pedagang mengungkapkan bahwa situasi tersebut bukanlah hal baru. Menurut mereka, setiap kali intensitas hujan meningkat, persoalan jalan becek dan drainase yang kurang optimal selalu berulang. Meski demikian, para pedagang tetap bertahan berjualan karena Ramadan merupakan periode penting untuk meningkatkan pendapatan.
“Kalau hujan turun, jalan langsung becek. Kami yang di dalam pasar harus lebih hati-hati, apalagi kalau ramai pembeli,” ujar seorang pedagang (21/02/2026).
Keluhan serupa juga disampaikan oleh pengunjung pasar. Beberapa warga mengaku tetap datang berbelanja karena kebutuhan Ramadan tidak bisa ditunda, namun mereka berharap kondisi pasar dapat lebih tertata dan nyaman. Bagi sebagian pembeli, genangan air tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan, terutama bagi orang lanjut usia dan anak-anak.
“Belanja tetap, tapi jalannya licin. Kalau bisa diperbaiki, tentu lebih aman dan nyaman,” kata seorang warga Labuha yang ditemui saat berbelanja kebutuhan berbuka puasa.
Sebagai pusat perekonomian rakyat di Kabupaten Halmahera Selatan, Pasar Sentral Kota Labuha memegang peranan strategis. Pasar ini menjadi tempat bertemunya pedagang kecil, pemasok lokal, hingga konsumen dari berbagai wilayah sekitar. Aktivitas jual beli di pasar tersebut tidak hanya menopang ekonomi keluarga pedagang, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian daerah secara lebih luas.
Karena itu, kondisi infrastruktur pasar dinilai memiliki dampak langsung terhadap kelancaran aktivitas ekonomi. Jalan pasar yang becek dan sistem drainase yang belum optimal berpotensi memperlambat mobilitas barang dan orang. Dalam jangka panjang, situasi tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi kenyamanan pengunjung dan menurunkan minat masyarakat untuk berbelanja langsung ke pasar tradisional.
Di sisi lain, para pedagang tetap berupaya beradaptasi dengan kondisi yang ada. Beberapa di antaranya membuat jalur darurat dengan papan atau batu agar pembeli bisa melintas lebih aman. Ada pula yang mengatur ulang posisi lapak agar tidak langsung terkena genangan air. Upaya mandiri tersebut dilakukan demi menjaga aktivitas jual beli tetap berjalan, meski dengan keterbatasan.
Warga dan pedagang menilai Ramadan 2026 dapat menjadi momentum untuk mendorong perhatian lebih serius terhadap pembenahan fasilitas pasar. Perbaikan jalan, penataan saluran drainase, serta pemeliharaan rutin infrastruktur dinilai penting agar pasar dapat berfungsi secara optimal, terutama pada periode dengan intensitas aktivitas tinggi seperti bulan puasa.
Harapan tersebut disampaikan tanpa mengabaikan pemahaman bahwa pembenahan infrastruktur memerlukan perencanaan dan anggaran. Namun, masyarakat berharap adanya langkah bertahap dan terukur, dimulai dari titik-titik yang paling rawan tergenang. Dengan demikian, dampak perbaikan dapat dirasakan langsung oleh pedagang dan pembeli.
Pengamat lokal menilai, pasar tradisional seperti Pasar Sentral Kota Labuha memiliki nilai strategis yang tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga sosial. Pasar menjadi ruang interaksi masyarakat lintas latar belakang, sekaligus penopang ketahanan ekonomi rakyat. Oleh sebab itu, keberlanjutan dan kenyamanan pasar perlu menjadi perhatian bersama antara pemerintah daerah, pengelola pasar, dan masyarakat.
Hingga kini, aktivitas di Pasar Sentral Kota Labuha tetap berjalan normal meski diwarnai keterbatasan infrastruktur. Warga memilih tetap berbelanja sambil menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan. Ramadan yang identik dengan meningkatnya kebutuhan konsumsi membuat pasar tetap ramai, meski genangan air masih menjadi pemandangan di sejumlah sudut.
Sesuai prinsip keberimbangan dan asas praduga baik, pemberitaan ini memotret kondisi lapangan berdasarkan keterangan warga dan pedagang yang beraktivitas langsung di pasar. Redaksi membuka ruang bagi pihak pengelola maupun instansi terkait untuk memberikan klarifikasi atau penjelasan resmi mengenai kondisi infrastruktur pasar serta rencana penanganan ke depan.
Masyarakat berharap, dengan perhatian dan pembenahan yang berkelanjutan, Pasar Sentral Kota Labuha dapat menjadi ruang ekonomi yang lebih aman, nyaman, dan tertata. Dengan demikian, semangat Ramadan 2026 tidak hanya tercermin dari meningkatnya aktivitas ibadah dan konsumsi, tetapi juga dari upaya bersama menjaga kelancaran dan keselamatan aktivitas ekonomi rakyat.





