@sandiwartanews.comselengkapnya di www.sandiwartanews.com♬ suara asli – sandiwartanews.com

Sandiwartanews.com – BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam pidatonya menegaskan bahwa masyarakat Sunda memiliki tiga simbolisasi penting yang mencerminkan nilai, filosofi, sekaligus tanggung jawab manusia terhadap alam. Simbol tersebut, menurutnya, menjadi warisan budaya yang harus terus dijaga demi keseimbangan ekosistem dan keberlangsungan hidup.

Laut sebagai Nyiratu, Putri yang Harus Dirawat

Laut selatan bagi orang Sunda digambarkan sebagai sosok putri cantik bernama Nyiratu. Laut bukan hanya sumber kehidupan, tetapi juga cermin kehormatan. “Merawat laut sama artinya menjaga harga diri kita sendiri. Jika laut rusak, maka kehidupan ikut tercemar,” tegas Dedi.

Ia menekankan agar masyarakat tidak melakukan tindakan merusak, seperti pengambilan terumbu karang atau pencemaran. Bahkan, Dedi menyampaikan apresiasi kepada sosok seperti Susi Pudjiastuti, mantan Menteri Kelautan, yang konsisten mengingatkan pentingnya menjaga laut.

Gunung dan Hutan, Simbol Abah Eyang

Gunung dan hutan dalam pandangan Sunda disimbolkan sebagai Abah Eyang, yang merepresentasikan kehormatan dan asal-usul nenek moyang. Menurut Dedi, menjaga gunung berarti menghormati leluhur sekaligus menjamin kesejahteraan rakyat.

“Gunung adalah benteng sekaligus sumber penghidupan. Jika kita merusaknya, maka bencana dan kemiskinan akan datang. Tetapi bila kita menjaganya, gunung akan memberi kita kehidupan yang berlimpah,” jelasnya.

Tanah sebagai Sunan Ambu, Ibu yang Harus Dihormati

Simbol ketiga adalah tanah, yang dipersonifikasikan sebagai Sunan Ambu. Tanah bagi masyarakat Sunda diibaratkan sebagai seorang ibu yang harus dihargai dan dirawat dengan penuh kasih.

“Perlakuan kita terhadap tanah mencerminkan rasa hormat kita kepada ibu. Menyakiti tanah, merusak, atau mengeksploitasinya secara serakah, sama saja dengan berkhianat kepada ibu kita sendiri,” ujar Dedi penuh makna.

Pesan Filosofi dan Tanggung Jawab Manusia

Melalui ketiga simbol tersebut—laut, gunung, dan tanah—Gubernur Dedi Mulyadi mengingatkan bahwa keseimbangan alam bukan sekadar kebutuhan ekologis, tetapi juga bagian dari jati diri masyarakat Sunda. Menjaga lingkungan adalah bentuk penghormatan terhadap kehidupan sekaligus warisan budaya.

“Alam memberi pesan moral yang jelas. Kalau kita jaga, ia akan menghidupi. Kalau kita abaikan, ia akan menghukum,” pungkasnya.