Jakarta – Sandiwartanews.com – Dentum genderang budaya kian terasa di jantung Ibu Kota. Hanya hitungan hari menuju Festival Pencak Silat Tradisi Se–Jabodetabek memperebutkan Piala Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, panitia penyelenggara dari Pesilat Tradisi Indonesia Raya (PETIRA) kian memantapkan langkah di area Museum Satria Mandala, Jakarta Selatan.
Segala persiapan memasuki tahap akhir — mulai dari tata panggung, perangkat lomba, hingga penyambutan tamu kehormatan. Ketua Panitia, Refly Cahyadi atau akrab disapa Tephy Condet, menegaskan seluruh tim bekerja tanpa lelah demi memastikan festival berjalan tertib, berwibawa, dan membanggakan.
“Seluruh aspek teknis dan administratif sudah rampung. Semangat gotong royong menjadi kekuatan utama kami dalam mewujudkan festival ini sebagai ruang kebanggaan budaya nasional,” ungkapnya kepada sandiwartanews.com, Kamis (13/11/2025).
Pembina I, Letkol Adm. Dr. Saparudin Barus, S.T., M.M., yang juga menjabat sebagai Kepala Museum Satria Mandala, mengingatkan agar setiap peserta dan panitia menjunjung nilai-nilai luhur dalam setiap gerak dan langkah.
“Festival ini bukan sekadar ajang bela diri, tetapi wadah pendidikan karakter dan pelestarian jati diri bangsa. Mari kita jaga nilai budaya dan kedisiplinan selama kegiatan berlangsung,” tuturnya.
Senada, Pembina II Syarif Hidayatuloh menekankan pentingnya kekompakan panitia.
“Keberhasilan acara ini bergantung pada keikhlasan dan semangat persaudaraan kita semua. Budaya harus dirawat dengan hati, bukan sekadar dipertontonkan,” ujarnya tegas.
Sekretaris Acara, Narwan Riyadi, memastikan seluruh koordinasi dengan pihak eksternal telah tuntas, termasuk penugasan juri resmi dari Pengurus Kota IPSI Jakarta Selatan.
“Kami sudah menerima Surat Tugas Nomor: /IPSI-JAKSEL/XI/2025 126. Lima juri resmi akan menilai dengan standar nasional — meliputi unsur wiraga (gerak), wirama (irama), dan wirasa (penghayatan),” jelasnya.
Kelima juri itu adalah Ratna Windyastuti (tingkat nasional), Memed, Lody Agusta (tingkat provinsi), serta Dadang Kurnia dan Indriana Yuliastuti (tingkat wilayah). Mereka akan memastikan setiap penampilan memancarkan nilai estetika, sportivitas, dan keaslian tradisi.
Sebanyak 48 perguruan dan sanggar silat tradisi telah menyatakan siap tampil, di antaranya PPS Macan Siliwangi, PPS Garuda Saka, PPS Kilat Buana, PPS Cempaka Putih, Canda Birawa, Pahaman, PPS Gagak Lumayung, Chingkrik Betawi Rusunawa, PPS Satriyo Gheni, Sanggar Si Bajay, Putra Setia Kota Tangerang, PPS Cingkrik Kembang Cagak, PPS Pusaka Waringin Bekasi, PPS Barigin Sakti, Sanggar Ki Djietoe Cawang, PPS Benteng Malang, Dephrok Jagakarsa, Sanggar Teradahan, MAPSA Indonesia, Sanggar Al Hilal, Sanggar Cingkrik Kong Ajud, Sanggar Rukem, PPS Macan Beksi, Langkah Asah Condet, SDI Cililitan 2, PPS Congkok, Padepokan Panglipur Cakra Sejati (Banten), Pondok Pesantren Al-Matiin (Tangsel), PPS Sang Maung Bodas (Sukabumi), Manderaga (Banten), Sanggar Ngedeprok Priok, Lenong Beksi Jelambar Baru, Sanggar Rumah Baba, PPS SGT Sijampang Muda (Rawa Buaya), Be’sih Kembang Dadap, Yudha Putra Buana, PPS Cakra Buana, Beksi Tradisional H. Hasbulloh, Yayasan Medal Suci, Paguron Sinar Cirahab Banten, PS Cingkrik Sumur Batu, Pengsimatoga Jakarta Timur, Seliwa Tapak Gunting, PPS Cakra Mahkota Aksara, Sima Macan Jalan Enam, Beksi Kampung Setu Ciganjur, MIS Asy Syuhada, dan Sinar Pusaka Putra.
Deretan nama tersebut menjadi simbol keberagaman warisan bela diri Nusantara yang berpadu dalam satu cita: melestarikan budaya, mempererat persaudaraan, dan menyalakan kembali semangat kebangsaan.
Festival bertema “Pencak Silat Tradisi: Merajut Budaya Nusantara, Berbalut Bhinneka Tunggal Ika” ini akan berlangsung 15–16 November 2025 di halaman utama Museum Satria Mandala. Agenda mencakup pertunjukan silat tradisi, parade budaya, hingga penyerahan penghargaan bagi para juara.
Ketua Panitia, Refly Cahyadi, menegaskan makna filosofis dari penyelenggaraan ini.
“Pencak Silat bukan sekadar warisan, tapi cermin jati diri bangsa. Lewat festival ini, kita nyalakan kembali semangat persatuan dan kebanggaan budaya Indonesia,” pungkasnya.
Festival Pencak Silat Tradisi Se–Jabodetabek 2025 bukan hanya perhelatan seni bela diri, tetapi momentum menghidupkan kembali nilai Bhinneka Tunggal Ika dalam bingkai budaya. Di tengah arus modernisasi, kegiatan seperti ini menjadi tameng sekaligus pelita bagi generasi muda agar tak tercerabut dari akar tradisinya.





