Sandiwartanews.com– Tanggerang – Di tengah derasnya arus modernisasi pendidikan Islam, pesantren salaf tetap berdiri teguh sebagai benteng warisan intelektual dan spiritual umat. Lembaga pendidikan ini bukan sekadar tempat menuntut ilmu agama, tetapi juga penjaga tradisi keulamaan yang telah berlangsung turun-temurun sejak masa awal berdirinya pesantren di Nusantara.
Istilah salaf sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti terdahulu atau klasik. Dalam konteks pendidikan pesantren, kata itu mengandung makna mendalam: menjaga keaslian sistem pendidikan Islam tradisional yang berpegang pada ajaran para ulama salaf melalui kajian kitab kuning—literatur klasik Islam berbahasa Arab yang menjadi fondasi keilmuan Islam di Indonesia.
Sistem Pendidikan yang Mengakar, Bukan Sekadar Mengajar, Pesantren salaf memiliki metode pengajaran yang khas, berbeda jauh dari sistem pendidikan modern. Para santri dididik dengan pendekatan sorogan dan (bandungan).
Dalam sistem sorogan, santri membaca langsung kitab di hadapan kiai atau ustaz untuk diuji pemahamannya. Sementara pada metode Bandungan, kiai membacakan kitab, sementara para santri menyimak dan memberi makna.
Tradisi ini menumbuhkan kedekatan intelektual dan spiritual antara guru dan murid, membentuk adab sekaligus kedalaman ilmu. Dalam setiap proses belajar, sanad keilmuan—rantai guru-murid yang tersambung hingga ulama besar terdahulu—menjadi jaminan keabsahan dan keberkahan ilmu.
Nilai dan Tradisi yang Terjaga Ciri khas pesantren salaf bukan hanya terletak pada kitab yang dikaji, tetapi juga pada adab dan budaya santri yang melekat.
Para santri, khususnya laki-laki, dibiasakan mengenakan sarung dan peci dalam keseharian mereka. pengajian kitab kuning pun masih lestari di banyak pesantren salaf, menandakan keterikatan kuat antara tradisi keilmuan lokal dan bahasa Arab klasik.
Dalam bidang akidah dan amaliyah, pesantren salaf berpegang pada mazhab Syafi’i dalam fikih, metode Asy’ariyah dan Maturidiyah dalam akidah, serta tasawuf ala Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi.
Rutinitas ibadah berjamaah seperti tahlil, istighatsah, manaqib, dan peringatan Maulid Nabi menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan santri sehari-hari.
Terbuka untuk Semua, Tanpa Seleksi pesantren salaf membuka pintunya untuk siapa saja yang ingin menimba ilmu. Setiap santri diterima tanpa seleksi, hanya penempatan kelas yang disesuaikan dengan kemampuan dasar ilmu agama yang telah dimiliki sebelumnya.
Meski terkesan sederhana, sistem ini justru melahirkan banyak ulama besar dan tokoh bangsa yang berpengaruh. Mereka tumbuh dari kesabaran, kedisiplinan, dan keikhlasan belajar di lingkungan yang menjunjung tinggi nilai adab sebelum ilmu.
Menjaga Keaslian di Tengah Perubahan Zaman Kini, di era digital dan globalisasi, pesantren salaf menghadapi tantangan besar: bagaimana mempertahankan keaslian sistem klasik di tengah tuntutan modernitas. Namun, banyak pesantren salaf berhasil beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya—mengintegrasikan teknologi informasi dalam administrasi dan publikasi dakwah, namun tetap menjadikan kitab kuning sebagai ruh pendidikan.
Pesantren salaf bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi penjaga peradaban Islam Nusantara. Di sanalah ilmu, adab, dan tradisi berpadu membentuk generasi yang tak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual.




