Sandiwartanews.comBandung – Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat terus melakukan proses identifikasi korban secara intensif dan berkelanjutan. Hingga Senin malam, proses tersebut menunjukkan perkembangan signifikan seiring bertambahnya jumlah kantong jenazah yang diterima serta meningkatnya jumlah korban yang berhasil dikenali identitasnya.

Berdasarkan data resmi yang dirilis pada Senin malam, hingga pukul 19.00 WIB, Posko DVI Polda Jawa Barat telah menerima total 50 kantong jenazah. Jumlah tersebut bertambah setelah adanya kedatangan 10 kantong jenazah tambahan yang masuk pada hari yang sama. Seluruh kantong jenazah tersebut langsung ditangani oleh tim gabungan yang terdiri dari unsur forensik, medis, dan kepolisian sesuai dengan prosedur standar penanganan korban bencana.

Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol. Hendra Rochmawan, S.I.K., M.H., yang didampingi oleh Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Kabiddokkes) Polda Jawa Barat, menyampaikan bahwa proses identifikasi terus mengalami kemajuan. Pemeriksaan post-mortem terhadap jenazah serta pengumpulan data ante-mortem dari pihak keluarga korban berjalan secara paralel untuk memastikan ketepatan hasil identifikasi.

“Hingga malam ini, jumlah korban yang berhasil diidentifikasi telah mencapai 34 orang, bertambah dari sebelumnya sebanyak 30 korban,” ujar Kombes Pol. Hendra Rochmawan dalam keterangan resminya kepada media(27/01/2026).

Ia menjelaskan bahwa proses identifikasi dilakukan dengan mengedepankan ketelitian dan kehati-hatian, mengingat kondisi korban yang beragam. Tim DVI menggunakan berbagai metode ilmiah yang diakui secara internasional, mulai dari pemeriksaan sidik jari, odontologi forensik (gigi), data medis, hingga pencocokan properti dan tanda-tanda khusus yang melekat pada korban.

Pada Senin malam, tim DVI secara resmi merilis identitas empat korban tambahan yang berhasil dikenali setelah melalui rangkaian pemeriksaan menyeluruh. Keempat korban tersebut adalah:

Korban dengan kode PM 41, atas nama Awang Sih, berusia 70 tahun. Identifikasi terhadap korban ini dilakukan melalui kecocokan properti yang ditemukan, tanda-tanda medis, serta pemeriksaan medis gigi yang menunjukkan kesesuaian dengan data ante-mortem yang diterima tim DVI.

Selanjutnya, PM 42, atas nama Wati, yang juga dikenal dengan nama Enok, berusia 58 tahun. Identitas korban ini berhasil dipastikan berdasarkan hasil pemeriksaan sidik jari yang cocok dengan data kependudukan, diperkuat oleh tanda-tanda medis yang mendukung proses identifikasi.

Korban ketiga yang diumumkan adalah PM 43, atas nama Bayu Nur Cahaya, berusia 33 tahun, berjenis kelamin laki-laki. Proses identifikasi terhadap korban ini dilakukan melalui pencocokan sidik jari serta data odontologi, yang memberikan hasil konsisten dengan data yang dihimpun dari pihak keluarga.

Sementara itu, PM 44, atas nama Epon, berusia 30 tahun, berjenis kelamin perempuan, berhasil diidentifikasi melalui kombinasi metode sidik jari, pemeriksaan gigi, serta kecocokan data medis. Hasil pemeriksaan tersebut memastikan identitas korban secara akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Kombes Pol. Hendra Rochmawan menegaskan bahwa setiap identitas yang dirilis kepada publik telah melalui proses verifikasi berlapis dan dinyatakan sah oleh tim DVI. Hal ini dilakukan untuk menghindari kekeliruan yang dapat berdampak pada keluarga korban maupun proses administrasi selanjutnya.

“Setiap rilis identitas dilakukan secara hati-hati. Kami memastikan seluruh data yang digunakan telah tervalidasi dan memenuhi standar identifikasi forensik,” tegasnya.

Meski demikian, pihak Polda Jawa Barat mengakui bahwa masih terdapat sejumlah kantong jenazah yang proses identifikasinya belum selesai. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kondisi jenazah yang memerlukan pemeriksaan lebih mendalam serta kelengkapan data ante-mortem yang masih dikumpulkan dari keluarga korban.

Untuk itu, Tim DVI Polda Jawa Barat dijadwalkan kembali bekerja hingga dini hari, sebagaimana yang telah dilakukan pada malam sebelumnya. Tim bekerja secara bergiliran guna menjaga ketelitian, konsistensi, dan kondisi fisik para petugas yang terlibat dalam proses identifikasi.

Polda Jawa Barat juga menyampaikan imbauan kepada masyarakat, khususnya keluarga korban, agar tetap bersabar dan menunggu informasi resmi yang disampaikan oleh pihak berwenang. Masyarakat diminta untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi kebenarannya dan berpotensi menimbulkan kebingungan atau kesedihan tambahan.

“Kami memahami perasaan keluarga korban. Oleh karena itu, kami berkomitmen untuk menyampaikan informasi secara transparan, bertahap, dan hanya berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dipastikan kebenarannya,” ujar Kombes Pol. Hendra.

Lebih lanjut, Polda Jawa Barat menegaskan bahwa seluruh proses identifikasi dilakukan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, profesionalisme, serta rasa empati terhadap para korban dan keluarganya. Pendekatan humanis menjadi bagian penting dalam setiap tahapan kerja tim DVI, baik saat pemeriksaan jenazah maupun saat berkomunikasi dengan keluarga korban.

Dengan masih berjalannya proses identifikasi terhadap kantong jenazah yang tersisa, Polda Jawa Barat memastikan akan terus memberikan pembaruan informasi secara berkala kepada publik. Setiap perkembangan akan disampaikan secara resmi melalui saluran komunikasi yang telah ditetapkan, guna menjaga akurasi informasi dan kepercayaan masyarakat.