Sandiwartanews.comkuningan — Gagasan tentang organisasi wartawan yang tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga hadir langsung membantu masyarakat, menjadi sorotan dalam kegiatan Halal Bihalal yang digelar Forum Wartawan Jaya Indonesia (FWJI) Kuningan, Jawa Barat. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 29 Maret 2026, di sekretariat FWJI di Luragung Tonggoh ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga momentum konsolidasi organisasi dan penyampaian program sosial yang dinilai progresif.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Dalam suasana kebersamaan yang hangat, para anggota FWJI Kuningan membahas sejumlah agenda penting, mulai dari pembaruan struktur kepengurusan hingga rencana penguatan peran sosial organisasi. Salah satu poin yang menarik perhatian adalah rencana pengadaan ambulans organisasi serta pembentukan yayasan untuk membantu korban penyalahgunaan narkoba.

Ketua FWJI Kuningan, Ahmad Nurcahya, menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya ingin melampaui fungsi konvensional sebagai wadah profesi wartawan. Ia menyampaikan bahwa dalam waktu dekat, FWJI akan memiliki kendaraan ambulans yang akan digunakan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, khususnya dalam kondisi darurat.

“Ini bukan sekadar simbol, tetapi bentuk nyata kepedulian kami terhadap masyarakat. Wartawan tidak hanya menulis, tetapi juga harus hadir dan memberi manfaat langsung,” ujar Ahmad dalam sambutannya.

Selain itu, rencana pembentukan yayasan untuk menampung dan membantu korban narkoba juga menjadi bagian dari visi sosial FWJI ke depan. Gagasan tersebut disampaikan oleh advokat Miscbahul Anwar Harahap, yang menilai bahwa persoalan narkoba membutuhkan pendekatan yang tidak hanya represif, tetapi juga rehabilitatif dan humanis.

Menurutnya, keberadaan yayasan ini nantinya diharapkan dapat menjadi tempat pendampingan bagi korban penyalahgunaan narkoba, sekaligus membantu proses pemulihan mereka agar dapat kembali ke masyarakat dengan lebih baik.

“Korban narkoba tidak cukup hanya dihukum, tetapi juga perlu dibina. Di sinilah peran yayasan menjadi penting,” kata Misbahul.

Di sisi lain, pembaruan struktur organisasi juga menjadi agenda penting dalam pertemuan tersebut. Salah satu perubahan signifikan adalah penunjukan Arif Rahman sebagai Sekretaris Jenderal menggantikan Dewa. Pergantian ini disebut sebagai bagian dari dinamika organisasi yang sehat dan upaya penyegaran kepengurusan.

Sementara itu, posisi Ketua tetap dipegang oleh Ahmad Nurcahya, yang memiliki mandat resmi berdasarkan surat keputusan dari Ketua Umum DPP FWJI, Mustofa Hadikarya, yang dikenal dengan sapaan Bang Ofan.

Untuk struktur kepengurusan lainnya, tidak terdapat perubahan signifikan. Posisi Wakil Ketua tetap dipegang Toton Hartono, Bendahara oleh Hj. Iroh, serta Humas oleh Wawan Irwanto. Bidang-bidang lainnya juga masih diisi oleh personel sebelumnya, menandakan adanya kesinambungan dalam tubuh organisasi.

Terkait legalitas dan administrasi, perubahan kepengurusan ini direncanakan akan segera disampaikan kepada instansi terkait, yakni Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol). Penyerahan dokumen dijadwalkan pada hari Rabu mendatang, sesuai arahan dari Sekretaris Dinas Kesbangpol, Khadapi, yang disampaikan melalui komunikasi telepon.

Langkah ini dinilai penting untuk memastikan bahwa setiap perubahan dalam struktur organisasi tercatat secara resmi dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sehingga aktivitas organisasi dapat berjalan dengan legitimasi yang kuat.

Dalam kesempatan yang sama, advokat Adam Suwahyo turut memberikan pandangan terkait arah organisasi ke depan. Ia mengaku bangga melihat kekompakan dan soliditas anggota FWJI Kuningan, yang dinilainya sebagai modal utama dalam membangun organisasi yang profesional.

Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa profesionalisme harus tetap menjadi prinsip utama, terutama dalam menjalankan tugas jurnalistik. Menurutnya, wartawan harus tetap independen, meskipun menjalin sinergi dengan berbagai pihak, termasuk eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

“Sinergi itu penting, tetapi independensi dan integritas tidak boleh dikorbankan. Wartawan harus tetap kritis dan objektif,” tegas Adam.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah berbagai program sosial yang dirancang, FWJI tetap memiliki tanggung jawab utama sebagai organisasi profesi yang menjunjung tinggi kode etik jurnalistik.

Kegiatan Halal Bihalal ini sendiri berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Selain diskusi formal, acara juga diisi dengan ramah tamah dan pertukaran gagasan antaranggota. Momentum ini dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan internal sekaligus menyatukan visi dalam menghadapi tantangan ke depan.

Langkah FWJI Kuningan yang merencanakan pengadaan ambulans dan pembentukan yayasan sosial dinilai sebagai inovasi yang jarang dilakukan oleh organisasi wartawan. Hal ini menunjukkan bahwa peran wartawan dapat berkembang menjadi lebih luas, tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial.

Namun demikian, sejumlah pihak juga menilai bahwa implementasi program-program tersebut perlu direncanakan secara matang, baik dari sisi pendanaan, pengelolaan, maupun keberlanjutan. Transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci agar inisiatif ini dapat berjalan efektif dan mendapat kepercayaan publik.

Dengan berbagai rencana dan dinamika yang ada, FWJI Kuningan kini berada pada fase penting dalam perjalanan organisasinya. Konsolidasi internal yang kuat, ditambah dengan program sosial yang relevan, berpotensi menjadikan organisasi ini sebagai salah satu contoh bagaimana komunitas wartawan dapat berkontribusi lebih luas bagi masyarakat.

Ke depan, publik akan menantikan realisasi dari berbagai gagasan yang telah disampaikan. Apakah ambulans FWJI benar-benar hadir dan beroperasi untuk masyarakat? Apakah yayasan rehabilitasi narkoba dapat berjalan efektif? Semua itu akan menjadi ukuran sejauh mana komitmen organisasi ini dalam mewujudkan visi sosialnya.

Yang jelas, langkah awal telah dimulai. Dan bagi sebagian orang, gagasan tentang organisasi wartawan yang memiliki ambulans dan yayasan sosial bukan lagi sekadar wacana, melainkan sebuah upaya nyata yang patut diapresiasi—dengan tetap menunggu pembuktian di lapangan.