Sandiwartanews.com – CILEGON, 6 NOVEMBER 2026 – Dinamika dunia informasi dan industri media di Kota Cilegon terus mengalami perkembangan seiring pesatnya transformasi teknologi digital. Menghadapi perubahan tersebut, Ahmad Rosidin selaku Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Ikatan Penulis dan Jurnalis Indonesia (IPJI) Kota Cilegon menegaskan pentingnya membangun solidaritas insan pers, memperkuat profesionalisme, serta meningkatkan kapasitas wartawan dalam menghadapi tantangan zaman.
Ahmad Rosidin mengatakan, organisasi pers harus mampu menjadi wadah pemersatu yang tidak hanya mengedepankan kepentingan kelembagaan, tetapi juga membangun kualitas sumber daya manusia dan menjaga marwah profesi jurnalistik.
“Menurut saya, kekuatan organisasi pers bukan semata-mata dilihat dari jumlah anggota maupun banyaknya media yang tergabung di dalamnya. Lebih dari itu, kekuatan sesungguhnya terletak pada solidaritas, integritas, kualitas sumber daya manusia, serta komitmen bersama dalam menjaga profesionalisme jurnalistik,” ujarnya.
Ia menambahkan, perbedaan organisasi, media, maupun latar belakang wartawan tidak seharusnya menjadi sekat yang menghambat terbangunnya kebersamaan di antara insan pers.
“Jangan sampai perbedaan organisasi justru melahirkan jarak dan persaingan yang tidak produktif. Kita semua memiliki tanggung jawab yang sama dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Karena itu, komunikasi, silaturahmi, dan kolaborasi harus terus dibangun demi menciptakan ekosistem pers yang sehat dan bermartabat,” tambahnya.
Komitmen tersebut mulai diwujudkan melalui penguatan komunikasi dan penjajakan kerja sama dengan sejumlah organisasi profesi kewartawanan, termasuk Gabungan Wartawan Indonesia (GWI) Kota Cilegon.
Menurut Ahmad, hubungan antarlembaga pers perlu dibangun atas dasar saling menghormati, keterbukaan, serta kesamaan visi dalam meningkatkan kualitas jurnalistik.
Selain solidaritas organisasi, transformasi digital menjadi salah satu perhatian utama dalam agenda pengembangan IPJI Kota Cilegon.
Ia menilai, perkembangan Artificial Intelligence (AI), media sosial, dan teknologi informasi telah membawa perubahan besar terhadap pola kerja jurnalistik. Wartawan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan menulis, tetapi juga harus memahami perkembangan teknologi dan mampu memanfaatkannya secara tepat.
“Teknologi harus kita jadikan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas kerja jurnalistik, bukan justru membuat kita kehilangan prinsip-prinsip dasar kewartawanan. Kehadiran AI, misalnya, harus disikapi dengan pengetahuan dan tanggung jawab. Wartawan tetap harus melakukan verifikasi, menjaga akurasi, serta memastikan setiap informasi yang dipublikasikan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Sebagai bentuk keseriusan dalam meningkatkan kapasitas insan pers, IPJI Kota Cilegon tengah mempersiapkan gagasan penyelenggaraan Seminar Nasional Jurnalistik dengan mengangkat tema perkembangan teknologi dan pemanfaatan AI dalam dunia pers.
Ahmad berharap kegiatan tersebut nantinya dapat menjadi ruang edukasi, pertukaran gagasan, serta peningkatan kompetensi bagi para jurnalis agar lebih siap menghadapi tantangan industri media di era digital.
“Harapan kami, seminar ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan menjadi ruang pembelajaran yang memberikan manfaat nyata bagi insan pers. Kita ingin wartawan semakin memahami teknologi, tetapi tetap menjadikan Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Pemberitaan Media Siber sebagai landasan dalam menjalankan profesi,” tambahnya.
Di sisi lain, Ahmad Rosidin juga memandang bahwa keberadaan IPJI harus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, khususnya dalam mendorong keterbukaan informasi publik.
Ia berharap komunikasi dan hubungan kelembagaan dengan Pemerintah Kota Cilegon maupun Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) dapat terjalin secara konstruktif dan profesional.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa kemitraan dengan pemerintah tidak boleh dimaknai sebagai penghilangan independensi pers maupun melemahnya fungsi kontrol sosial.
“Pers harus tetap independen, objektif, dan kritis. Kemitraan bukan berarti wartawan harus kehilangan keberanian dalam menyampaikan fakta. Begitu juga kritik bukan berarti harus memutus komunikasi. Kita harus bisa membangun hubungan yang profesional, saling menghormati, dan tetap menempatkan kepentingan publik sebagai prioritas,” tegasnya.
Lebih jauh, Ahmad berharap IPJI Kota Cilegon dapat berkembang menjadi rumah bersama bagi para penulis dan jurnalis untuk bertukar pikiran, meningkatkan kemampuan, serta melahirkan gagasan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menurutnya, masa depan organisasi pers tidak seharusnya dibangun melalui persaingan antarlembaga, melainkan melalui kolaborasi, peningkatan kualitas, dan kesadaran kolektif untuk menjaga kehormatan profesi.
“Yang ingin kita bangun adalah kebersamaan, bukan perpecahan. Kita boleh berbeda wadah organisasi, tetapi jangan sampai kehilangan semangat persaudaraan. Saya berharap IPJI Cilegon dapat terus tumbuh, terbuka terhadap perubahan, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan dunia jurnalistik,” pungkasnya.
Dengan mengedepankan solidaritas, peningkatan profesionalisme, dan adaptasi terhadap transformasi digital, Ahmad Rosidin berupaya membawa IPJI Kota Cilegon menjadi bagian dari penguatan ekosistem pers daerah yang independen, berintegritas, serta mampu menjawab tantangan perkembangan zaman.









